Senin, 16 Juni 2014

Alasan orang Indonesia Menyukai Lagu pop Mandarin Indonesia (Bagian ke 2).

Sebenarnya lagu pop Mandarin-Indonesia pernah dilarang beredar di Indonesia pada awal tahun 1996 oleh pemerintahan Indonesia. Makanya sejumlah stasiun televisi dan radio di Indonesia pun berhenti menayangkan dan berhenti memutar lagu-lagu Mandarin-Indonesia. Tapi saya sudah terlanjur mencintai lagu-lagu Mandarin sejak kecil seperti lagu Mario yang diproduksi oleh Virgo Ramayana, Yulia Yasmin, Yuki, Nila Kartika dengan suara Mupetnya ,Mery Andani, Nia Lavenia, Anis Marsela, penyanyi yang membawakan lagu Memori Kereta Senja yang dilirik dari lagu Mandarin asli yang bernama Emil Chau dengan judul Hua Xin, dan lain-lain. Pasalnya lagu-lagu Mandarin sangat enak didengar maupun untuk sekedar bernostalgia.

Dulu stasiun televisi banyak yang menayangkan film-film Mandarin sehingga masyarakat terbius dengan lagu Soundtrack film Mandarin seperti lagu pembuka dalam serial " Kembalinya Pendekar Rajawali " yang dinyanyikan oleh Yuny Shara. Begitu juga dengan lagu Soundtrack serial The White Snake Legend sangat Booming di masyarakat saat itu. Saya juga suka mendengarkan lagu Mandarin asli yang berjudul Ai Jing Te Ku Se, dan penyanyi Mandarin asli yang bernama Teresa Teng. Namun sekitar tahun 2003, masyarakat Indonesia kembali digemparkan dengan hadirnya Boyband asal Mandarin dengan group F4 yang menyanyikan lagu Soundtrack " Meteror Garden " kemudian diubah menjadi lagu Mandarin versi Indonesia yang dinyanyikan oleh Mery Andani menjadi lagu Bunga Cintaku.

Kini peredaran kaset-kaset Mandarin di Indonesia menjadi langka. Saya hanya memiliki koleksi kaset pita dari penyanyi Mario dalam album sukses Mario tahun 1995 yang diproduksi oleh Virgo Ramayana. Sementara kaset  VCD yang berisi lagu Mandarin Indonesia, saya hanya memiliki kumpulan lagu Mandarin dari Mario, Yulia Yasmin, dan Yuki.

" Ada kaset Mandarin, pak? " tanya saya pada seorang pedagang kaset VCD.

" Ada " Sahutnya antusias.

Lalu ia menunjuk ke salah satu rak yang berisi tumpukan beberapa keping VCD Mandarin. Wah, ternyata benar. Jadi apa yang selama ini saya cari, sudah saya temukan. Lalu saya melihat Cover VCD, disana tertera judul albumnya " 20 kumpulan pup Mandarin Indonesia "

"Boleh dicoba, pak? " tanya saya lagi.

" Boleh " Sahutnya ramah.

Lalu ia bergegas memasukkan kepingan VCD itu ke VCD player. Setelah diputar, lagu itu sangat enak didengar walaupun banyak orang yang mengatakan lagu itu sudah ketinggalan jaman. Termasuk pendapat wanita yang baru saya kenal yang sedang memilih-milih kaset.

" Lagunya sudah tidak jamannya lagi, tetapi bagus juga jika untuk bernostalgia " Ujarnya.

" Ya " Sahut saya untuk merespon pendapatnya.

Walaupun saya baru kenal dengan wanita itu, namun saya mencoba untuk menghargai pendapatnya. Ada beberapa penyanyi Mandarin yang terputar saat itu, ada Mario dengan lagunya yang berjudul Amoy. Kemudian disusul dengan Yulia Yasmin, Yuki, dan lain-lain. Karena lagu itu sangat saya suka, kemudian saya berniat memastikan untuk membelinya.

" Berapa harganya, pak? "

" Enam ribu rupiah, Boss"

Saya kemudian bergegas membayarnya lalu pulang.

Senin, 09 Juni 2014

Alasan Orang Indonesia Tidak Suka Menonton Film Indonesia.

Film Indonesia pernah berjaya pada sekitar tahun 1980-1990. Film yang masih saya ingat pada saat itu tidak lain adalah Film Catatan Si Boy yang dibintangi oleh Onky Alexander. Sayangnya, pada akhir tahun 1990, perfilman Indonesia mengalami kelesuan. Namun bangkit kembali di awal tahun 2000. Film Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi oleh Dian Sastro Wardoyo ikut meramaikan bangkitnya perfilman Indonesia. Lalu disusul dengan film Pertualangan Sherina dan film bertema horor Jelangkung, dan lain-lain.

Masyarakat Indonesia saat ini rasanya kurang tertarik menonton film Indonesia padahal film Indonesia banyak yang diputar di bioskop-bioskop ternama di luar negeri seperti misalnya film The Raid, Lovely Man, Laskar Pelangi, Daun Di Atas Bantal, Meraih Mimpi, Ayat-ayat Cinta, Habibie Dan Ainun, Negeri Lima Menara, Modus Anomali, Java Heart dan lain-lain. Konon film tersebut juga pernah mendapatkan penghargaan dari negara Amerika, Kanada, Australia, Jepang, dan lain-lain. Bahkan negara Kuwait juga menyukai film Indonesia yang bertema Religi Islam seperti Film Emak Ingin Naik Haji. Selain itu, banyak juga film Indonesia yang diputar di negara seperti Singapura, Afrika Selatan, Perancis, Fhilipna, Amerika, dan Australia. Film tersebut adalah film Dead Mine.

Orang barat sangat menyukai film Indonesia, tapi kenapa orang Indonesia justru tidak suka menonton film Indonesia? Berikut ini adalah alasannya seperti yang saya kutip di Yahoo Answer. Penyebabnya adalah karena Ending film Indonesia sangat mudah ditebak, Genre ceritanya Monoton, film horor selalu dibumbui dengan seks dan komedi, tidak bermutu, karena film Action Indonesia kurang Okey jika dibandingkan dengan film luar negeri.

Ada juga yang berkomentar di Yahoo Answer bahwa wajah perfilman Indonesia menjadi tercoreng karena film Indonesia lebih identik ke arah horor komedi, horor seks dan seks komedi, alur ceritanya kurang menggigit, dan banyak adegan menangis.

Rabu, 04 Juni 2014

Daftar Lagu-Lagu Nia Daniaty.

Saya harus mengakui secara jujur bahwa dari kecil saya sangat mengidolakan penyanyi Nia Daniaty. Selain wajahnya awet muda, dia juga memiliki suara yang sangat merdu dan Melankolis.

Lagu-lagu Nia Daniaty yang masih saya ingat judulnya diantaranya adalah lagu Gelas-Gelas Kaca, Tujuh Menit Saja, Aku Siapa Yang Punya, Aku Tak Ingin Dimadu, Biar Ku Cari Jalan Hidupku, Bukalah Hatimu, Burung Pun Ingat Pulang, Cintamu Cinta Apa, Demi Kasihku, Dia Sahabat Karibku, Disini Aku Rindu Disana Kau Bercumbu, Inilah Cintaku, Perkawinan Bukan Sandiwara, Siapa tak Ingin Disayang, Singgasana Cinta, Tak Ingin Seperti Dia, Tak Mungkin Dua Jadi Satu, Tikar Merah, Yang Lalu Biarlah Brlalu { Feat Pance.P. Pondaag } Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sangat banyak penyanyi-penyanyi Legendaris kesukaanku yang jarang muncul lagi di televisi. Sebut saja Bhetaria Sonata, Ratih Purwasih, Endang S taurina, dan sebagainya. Nia Daniaty juga sudah lama tak pernah muncul di televisi. Tetapi alangkah kagetnya ketika saya menyaksikan sebuah acara Infotainment di stasiun televisi swasta " Anteve " dalam acara  " SOS Anteve " Acara itu menayangkan perceraian Nia Daniaty dengan Farhat Abas secara Live tertanggal 5 Juni 2014.

Disana ditayangkan wawancara Ekslusif antara Nia Daniaty dengan presenter Anteve. Bagaimana perasaan Mbak Nia  setelah bercerai dengan Mas Farhat?" Tanya Presenter. Lalu Nia menjawab" Perasayaan saya sangat Plonk [ lega ] setelah saya menyandang status Single Parent" Ujar wanita kelahiran Jakarta 17 April 1964. Ketika ditanya oleh presenter, apa yang mau Mbak Nia sampaikan kepada Mas Farhat lewat acara ini? Nia Daniaty menjawab " Saya tak ingin menyampaikan suatu apapun kepada Mas Farhat" Imbuh wanita yang bernaung di bawah Zodiack Aries.

Penyanyi yang populer lewat lagu Gelas-Gelas Kaca itu mendapatkan kado spesial dari Anteve berupa makanan kesukaan Nia Daniaty dan kipas ajaib yang terbuat dari kertas.